FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Akuisisi Tambang BP, Fortune Indonesia (FORU) Prediksi Pendapatan Melonjak

Administrator - 21/07/2026 15:31

Bisnis.com, JAKARTA — PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU) menilai akuisisi PT Borneo Prima (BP) melalui mekanisme inbreng dalam rights issue senilai Rp27,1 triliun akan mentransformasi perseroan ke bisnis pertambangan batu bara kokas (coking coal), sekaligus mendongkrak pendapatan secara signifikan.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen menjelaskan BP merupakan perusahaan tambang batu bara metalurgi (coking coal) yang beroperasi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Perusahaan memiliki wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare dengan kualitas batu bara mencapai 7.850 kcal/kg (CV adb). Berdasarkan laporan cadangan yang disusun SMG Consultant sesuai Kode JORC 2012, BP memiliki cadangan terbukti (proven reserve) sebesar 42,4 juta ton dan cadangan terkira (probable reserve) 45,3 juta ton.

Dengan demikian, total cadangan batu bara perseroan mencapai 87,7 juta ton. "Prospek bisnis batu bara kokas masih menarik karena berbeda dengan batu bara termal yang menghadapi perlambatan permintaan global. Batu bara kokas digunakan sebagai bahan baku utama industri baja, sehingga permintaannya diperkirakan tetap tumbuh seiring ekspansi industri baja, terutama di India dan Asia Tenggara," jelas manajemen FORU, Senin (20/7/2026).

Perseroan mengutip proyeksi World Steel Association yang memperkirakan permintaan baja global meningkat dari 1,724 miliar ton pada 2026 menjadi 1,762 miliar ton pada 2027. Di India, kapasitas produksi baja ditargetkan meningkat menjadi 300 juta ton pada 2030 sehingga kebutuhan batu bara kokas diperkirakan melonjak dari sekitar 80 juta ton menjadi 135 juta ton. Di pasar domestik, Association of Indonesian Coke Industries (AICI) memperkirakan produksi batu bara kokas Indonesia baru sekitar 3 juta ton per tahun atau hanya memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional.

Sisanya masih dipenuhi melalui impor, sehingga dinilai membuka peluang pasar yang besar bagi produsen dalam negeri. Perseroan juga memperkirakan harga batu bara kokas akan tetap berada di atas US$200 per metrik ton dalam lima tahun ke depan sehingga memberikan prospek yang menarik bagi bisnis tersebut.

Selain prospek industri, masuknya BP juga diproyeksikan mengubah secara signifikan struktur keuangan FORU. Berdasarkan informasi keuangan proforma, total aset perseroan diperkirakan melonjak dari Rp33,55 miliar menjadi Rp8,71 triliun setelah konsolidasi dengan BP. Total liabilitas meningkat dari Rp14,32 miliar menjadi Rp1,56 triliun, sedangkan ekuitas naik dari Rp19,23 miliar menjadi Rp7,15 triliun seiring penerbitan saham baru dalam rights issue. Dari sisi operasional, pendapatan usaha diproyeksikan meningkat sekitar 35 kali lipat atau 3.516,89%, dari Rp5,41 miliar menjadi Rp195,66 miliar.

Kenaikan tersebut terutama berasal dari kontribusi bisnis pertambangan dan penjualan batu bara kokas milik BP. Laba kotor juga diperkirakan meningkat 2.576,77% dari Rp3,91 miliar menjadi Rp104,74 miliar sejalan dengan bertambahnya kontribusi pendapatan dari bisnis pertambangan. Selain itu, perseroan diproyeksikan berbalik mencatat laba. Sebelum transaksi, FORU membukukan rugi bersih Rp4,15 miliar. Setelah konsolidasi dengan BP, perseroan diproyeksikan membukukan laba bersih sebesar Rp11,94 miliar atau membaik sekitar Rp16,09 miliar dibandingkan posisi sebelum transaksi.

"Perubahan tersebut terutama berasal dari kontribusi laba bersih BP sebagai perusahaan tambang batu bara kokas," imbuh manajemen FORU. Sebelumnya, FORU mengumumkan rencana rights issue senilai maksimal Rp27,1 triliun dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 215,09 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp126 per saham.  Sekitar 76,81% dana hasil rights issue atau Rp20,82 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi saham PT Borneo Prima melalui mekanisme inbreng. Sisa dana akan digunakan sebagai pinjaman kepada BP untuk mendukung modal kerja dan operasional pertambangan.

 

Filter