FAC News
GOTO CETAK LABA BERSIH PADA SEMESTER I-2026
IQPlus, (30/7) - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan laba bersih senilai Rp607,48 miliar pada semester I-2026, atau berbalik dari sebelumnya mencatatkan laba bersih sebesar Rp580,01 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan bersih yang mencapai Rp10,99 triliun pada semester I-2026, atau tumbuh 28,45 persen year on year (yoy) dibandingkan pendapatan senilai Rp8,55 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Pendapatan perseroan dikontribusikan dari pendapatan jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun atau tumbuh 16,48 persen (year on year/yoy), dan pendapatan dari ketidakseimbangan jasa yang berkontribusi sebesar Rp3,15 triliun.
Lalu, juga dikontribusikan dari pendapatan ketidakseimbangan jasa e-commerce sebesar Rp550,72 miliar, dan pendapatan dari ketidakseimbangan iklan sebesar Rp254,45 miliar.
Kemudian, perseroan memperoleh pendapatan lain-lain senilai Rp1,12 triliun, serta memperoleh dana dari pinjaman sebesar Rp2,7 triliun atau tumbuh 64,67 persen (yoy).
Seiring pertumbuhan pendapatan, biaya dan beban perseroan ikut tumbuh 16,87 persen (yoy) menjadi Rp10,21 triliun pada semester I-2026, dibandingkan senilai Rp8,73 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset perseroan mencapai Rp47,47 triliun per 30 Juni 2026, sementara total kumulatif antara liabilitas dan ekuitas mencapai Rp47,47 triliun.
Pada 1 Juli 2026, Hans menjelaskan bahwa struktur komisi baru mulai diberlakukan oleh perseroan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026.
"Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang memberikan sekitar 7 persen dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," ujar Hans.
Penyesuaian tersebut tidak mudah, namun Hans yakin bahwa perseroan dapat mengatasi dampaknya, sehingga tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun.
“Kami mengira kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” ujar Hans.
Seiring berkembangnya ekosistem, ia memastikan perusahaan terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, antara lain melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga umrah gratis.
“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” ujar Hans.
Lebih lanjut, perseroan menaikkan kinerja Fintech menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun seiring dengan kinerja bisnis yang terus unggul.
Di sisi lain, perseroan meningkatkan pedoman kinerja On-demand Services menjadi Rp1,4 Triliun-Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, sebagai dampak dari penerapan komisi penerapan sebesar 8 persen.
Hans menjelaskan, pedoman itu mengacu pada perkiraan awal perseroan yang mengacu pada kondisi saat ini dan masih dapat berubah sewaktu-akibat berbagai waktu risiko termasuk ketatnya persaingan pasar dan inflasi biaya, hingga penerbitan ekonomi makro serta variabel lainnya yang berada di luar kendali.