FAC News
ARTHAVEST (ARTA) TARGETKAN PENDAPATAN Rp100 MILIAR PADA 2026
IQPlus, (12/6) - Emiten investasi dan pengelola aset, PT Arthavest Tbk (IDX:ARTA), memaparkan target kinerja serta arah kebijakan perusahaan untuk mengarungi buku tahun 2026. Agenda tahunan ini memaparkan evaluasi kinerja keuangan periode sebelumnya serta proyeksi bisnis ke depan. Melalui keterbukaan informasi terbarunya, manajemen perseroan menetapkan target pendapatan yang cukup optimistis, yakni membandingkan angka Rp100 miliar sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan laporan ikhtisar keuangan konsolidasian, emiten yang memiliki kantor pusat di Sahid Sudirman Center Jakarta ini mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp71,43 miliar sepanjang tahun 2025. Realisasi tersebut mengalami penyesuaian jika dibandingkan dengan perolehan pada tahun buku 2024 yang mencapai Rp105,15 miliar. Fluktuasi ini turut mempengaruhi laba tahun berjalan, di mana perseroan mencatat rugi bersih Rp3,48 miliar pada tahun 2025 setelah membukukan laba Rp18,24 miliar di tahun sebelumnya.
Meski demikian, struktur neraca atau laporan posisi keuangan perseroan terpantau tetap terjaga dengan total aset akhir 2025 mencapai Rp268,11 miliar. Menariknya, ARTA berhasil melakukan efisiensi besar-besaran pada pos pembiayaan dengan menekan jumlah liabilitas secara signifikan. Total liabilitas perseroan menyusut dari Rp14,25 miliar pada akhir tahun 2024 menjadi hanya Rp9,03 miliar di akhir tahun 2025, sementara total ekuitas tercatat kokoh sebesar Rp259,07 miliar.
Di sisi kepemilikan modal per 28 Februari 2026, komposisi pemegang saham ARTA masih didominasi oleh institusi dan operator utama. Lukas, SH. CN bertindak sebagai pemegang saham utama dan pengendali dengan kepemilikan mayoritas mutlak sebesar 82,13%. Sementara itu, porsi kepemilikan masyarakat dengan persentase di bawah 5% adalah sebesar 17,87%, yang terbagi atas investor domestik atau lokal sebesar 11,89% dan investor asing sebesar 5,98%.
Guna mencapai target kinerja yang dicanangkan, manajemen ARTA fokus mengoptimalkan lini bisnis anak usahanya, PT Sanggraha Dhika, yang bergerak di sektor perhotelan dengan kepemilikan saham 51%. Langkah ini diambil mengingat sektor perhotelan di Jakarta mengancam tantangan makroekonomi, seperti ketegangan geopolitik global yang memicu penurunan harga energi, biaya logistik, dan utilitas operasional hotel. Persaingan pasar juga diprediksi kian ketat karena bergeser ke arah hotel kelas menengah berkonsep ekonomis.
Tantangan lain yang diantisipasi adalah kebijakan efisiensi anggaran kementerian atau lembaga pemerintah yang membatasi pelaksanaan rapat di luar kantor. Kebijakan ini berdampak langsung bagi hotel-hotel di Jakarta yang selama ini mengandalkan pasar Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE). Selain itu, perkembangan teknologi juga menuntut industri perhotelan mengadopsi sistem keamanan siber yang mumpuni untuk menangani risiko penipuan data pada platform pemesanan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menyikapi hal tersebut, manajemen ARTA telah menyiapkan strategi komprehensif, mulai dari penyediaan teknologi MICE Hybrid dengan internet cepat dan smartboard, hingga pembuatan paket staycation tematik dan wellness retret. Perseroan juga mengoptimalkan pendapatan non-kamar melalui transformasi restoran destinasi menjadi kuliner mandiri, layanan automasi melalui mobile check-in, program loyalitas berbasis media sosial, serta penerapan inisiatif Green Hotel ramah lingkungan.