Pembayaran kas kepada karyawan turun 7,2 persen menjadi USD219,7 juta, seiring jumlah karyawan grup yang berkurang menjadi 10.459 orang dari 10.852 orang pada akhir 2025. Struktur grup juga dirampingkan: satu anak usaha di lini perhotelan sudah dilikuidasi, dan dua lainnya sedang dalam proses pembubaran.
Tekanan serupa dialami maskapai seluruh dunia. Konflik di Timur Tengah memanas sejak akhir Februari 2026 mengganggu pasokan energi global. Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel global pada puncaknya di April 2026 naik sekitar 121 persen dibanding April 2025. Untuk sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga jet fuel rata-rata USD152 per barel, hampir 70 persen lebih tinggi dari rata-rata 2025.
Soal armada, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggungnya dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8/2026). Menurut Presiden, Garuda yang hampir dipailitkan dan memiliki puluhan pesawat grounded yang tak bisa diperbaiki kini berhasil mengaktifkan kembali pesawat-pesawat tersebut. Hingga Juni 2026, jumlah pesawat yang kembali beroperasi mencapai 104 unit. "Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung," ujar Prabowo.
Jejaknya terlihat di laporan arus kas. Sepanjang semester I 2026, GIAA membayar USD232,1 juta untuk aset pemeliharaan pesawat, terutama perawatan mesin. Nilai ini lebih dari tiga kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Di sisi lain, utang perseroan berkurang.
Total pinjaman GIAA, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4,0 persen menjadi USD3,76 miliar per 30 Juni 2026 dari USD3,92 miliar pada akhir 2025. Liabilitas sewa turun dari USD2,49 miliar menjadi USD2,34 miliar setelah membayar pokok sewa USD158,9 juta semester I. Arus kas operasional positif USD253,1 juta, dan kas serta setara kas per akhir Juni 2026 sebesar USD624,3 juta.
Posisi Ekuitas Membaik
Dalam laporan keuangan ini, GIAA juga melakukan penyesuaian angka pembanding tahun 2025 (penyajian kembali). Penyesuaian terutama terkait pengukuran estimasi biaya perawatan dan pengembalian pesawat sewa, yang disesuaikan dengan ketentuan kontrak sewa. Penyesuaian ini bersifat nonkas.
Secara tahunan, posisi ekuitas GIAA membaik. Per 30 Juni 2025, defisiensi modal perseroan masih USD1,50 miliar. Setelah suntikan modal Danantara, defisiensi modal per 30 Juni 2026 menyempit menjadi USD52,2 juta. Posisi ini memang berbalik dari ekuitas positif pada akhir 2025, seiring rugi yang masih dibukukan pada semester berjalan.
Dari sisi pemegang saham, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria pada akhir Maret lalu menyebut tekanan kinerja Garuda sepanjang 2025 merupakan kondisi sebelum intervensi berjalan. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pesawat grounded yang tetap menimbulkan beban sewa. Menurut Dony, dampak intervensi tersebut akan terlihat pada kuartal I dan kuartal II 2026. "Tidak cukup hanya dengan memberikan pendanaan, tetapi juga harus diikuti transformasi bisnis," ujar Dony.


