IQPlus, (2/8) - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,1 triliun pada semester pertama tahun 2026, yang didukung oleh disiplin operasional hingga optimalisasi kapasitas produksi.
Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengatakan perusahaan terus berupaya menjaga operasional di tengah tantangan industri nikel global.
"Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap fokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen," ujar Suparsin dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi itu menyampaikan laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Menurut dia, di tengah dinamika industri nikel global, tetap fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai terintegrasi, serta penguatan melakukan tindakan usaha yang bertanggung jawab untuk menjaga produksi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Dari sisi operasional, peningkatan kinerja penjualan nikel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya turut menopang capaian perseroan.
Peningkatan tersebut didukung dengan mulai beroperasinya fasilitas tambang baru PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025 serta bertambahnya lini produksi fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS).
Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh peningkatan output dari tambahan lini produksi fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik KPS. Sementara itu, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) pada segmen hidrometalurgi dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.
Pihaknya juga terus memperkuat daya saing melalui pengelolaan operasi terintegrasi mulai dari kegiatan penambangan hingga pengolahan nikel.
Optimalisasi kapasitas produksi secara bertahap di berbagai fasilitas yang disediakan dapat meningkatkan operasional operasional sekaligus menjaga pasokan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Di sisi keinginan, perusahaan juga mengembangkan sejumlah inisiatif dekarbonisasi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi waste heat recovery di fasilitas HPAL yang dirancang menghasilkan listrik hingga 50 MW dan ditargetkan rampung pada kuartal IV 2026.


