Siloam Berencana Beli Kembali Sahamnya. (01/11/2019)

FAC News

Libur Imlek dan Virus Corona Menjepit Kinerja Ekspor Impor RI

Administrator - 14/02/2020 10:09

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas ekspor dan impor Indonesia awal tahun belum menggembirakan.

Meskipun perdagangan awal tahun biasanya memang belum kencang, tahun ini ada tambahan dampak wabah virus korona dari Wuhan, China yang membuat ekonomi global lesu.

Akibatnya, neraca perdagangan Januari 2020 berpotensi mengalami defisit atau melanjutkan tren defisit pada dua bulan terakhir di 2019.

Data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan, pada minggu kelima Januari 2020 terjadi penurunan impor dari China sebesar 39,6% year on year (yoy)

Ini tentu akan mempengaruhi kinerja impor Indonesia secara keseluruhan. Sebab, produk asal China memiliki porsi terbesar, hampir 30% dari total impor Indonesia.

Tapi, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea dan Cukai Syarif Hidayat menyebut penurunan aktivitas dagang itu tak berkaitan dengan virus korona, melainkan dampak libur panjang perayaan imlek.

"Kalaupun perubahan, memang pada 2 minggu sebelum dan setelah imlek turun, karena itu siklus tahunan," terang Syarif, Kamis (13/2).

Memang menjelang 25 Januari 2020 merupakan libur Imlek di China.

Pemerintah China sengaja memperpanjang libur hingga 10 Februari lalu karena ingin mengurangi dampak penyebaran virus korona (Covid-19) di negeri itu.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat penurunan impor Indonesia sebagai dampak penyebaran Covid-19 .

Ekspor naik tipis


Ia memperkirakan, nilai impor Januari turun 5% yoy akibat dari terhambatnya proses distribusi di China karena akses beberapa daerah di China ditutup.

"Biasanya setelah imlek ada normalisasi, ini malah banyak barang yang terkendala masuk ke Indonesia. Bukan hanya bahan baku, tetapi juga barang jadi," jelas David kepada KONTAN.

Meski impor turun, di sisi lain David melihat ekspor cuma naik tipis 1% yoy. Sehingga, neraca perdagangan Januari defisit US$ 127 juta.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet juga memperkirakan neraca dagang Januari defisit US$ 170 juta.

Ia memperkirakan ekspor turun 8% yoy karena perlambatan permintaan minyak sawit mentah (CPO) dan batubara dari China di Januari.

Impor turun 7% yoy. Ini akibat aktivitas industri manufaktur Indonesia yang masih lesu.

Sementara Danareksa Research Institute memperkirakan, neraca dagang Januari defisit US$ 240 juta. Nilai ekspor turun 2,8% yoy dan impor turun 8,1% yoy.

Namun, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, damak wabah korona belum terlihat pada Januari, tapi akibat kontraksi industri manufaktur dalam negeri.

 

Filter