» Detail News

Selasa, 14 Mei 2019 - 14:26:04 WIB

Posting by : DEA
Category    : Corporate News - Reads : 24



Emiten Emas Mengalap Berkah di tengah Perang Dagang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi perang dagang yang sedang panas akan mempengaruhi kondisi ekonomi global. Aksi berbalas kenaikan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) dan Cina akan menyebabkan perlambatan ekonomi global.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini saja sudah terus menunjukkan respons negatif dengan berada di zona merah. IHSG pada perdagangan hari Senin, (13/5) turun dalam 1,19%. Sedangkan hingga akhir perdagangan sesi hari ini, Selasa (14/5), IHSG turun 1,29% ke level 6.056.

Di tengah memanasnya kondisi global, justru hal tersebut memberi angin segar bagi harga komoditas emas. Selasa (14/5) pukul 8.07 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.301,90 per ons troi, naik dari US$ 1.301,80 per ons troi pada penutupan perdagangan kemarin.

Di awal pekan ini, harga emas naik 1,12% setelah China mengumumkan tarif baru atas impor dari Amerika Serikat (AS).

Melihat kondisi tersebut, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony mengatakan, ini merupakan sentimen positif yang diperoleh dari dampak perang dagang. Menurutnya, naiknya harga komoditas emas akan memberikan kontribusi lebih bagi penjualan emas emiten.

“Emas adalah salah satu safe haven, dimana ketika ekonomi sedang bergejolak, emas bisa menjadi alternatif untuk menjaga nilai mata uang. Untuk itu, harga emas mengalami kenaikan sejak kenaikan tarif perang dagang diumumkan,” ujar Chris kepada Kontan.co.id, Selasa (14/5).

Salah satu emiten yang akan mengais cuan dari penjualan emas adalah PT United Tractors Tbk (UNTR). Asal tahu saja, mulai akhir tahun 2018 lalu, UNTR mulai mendiversifikasi bisnis dengan mengakuisisi tambang emas Martabe.

Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara Loebis mengatakan, untuk adanya permintaan tambahan yang signifikan terkait produk emas akhir-akhir ini belum terasa. Kendati demikian, menurutnya, ini merupakan kabar baik bagi lini bisnis emas.

“So far tidak ada perubahan demand. Penjualan 100% untuk ekspor. Benar ada indikasi harga naik sedikit. Target kami masih 350.000 oz,” ujar Sara kepada Kontan.co.id.

Berdasarkan laporan resmi UNTR, total penjualan emas UNTR melalui PT Agincourt Resources di kuartal I 2019 lalu sebesar 97.000 oz yang menghasilkan pendapatan bersih Rp 1,9 triliun.

Di sisi lain, emiten yang akan mendapatkan berkah dari kondisi ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten pelat merah ini pada kuartal I 2019 mencatatkan penjualan bersih Rp 6,22 triliun atau naik 9% yoy.

Penjualan emas ANTM pada kuartal I 2019 mencapai 209.526 oz. Komoditas emas menjadi salah kontributor terbesar pendapatan ANTM yakni sebesar Rp 3,94 triliun atau 63% dari total pendapatan.

Chris menambahkan, pihaknya masih merekomendasikan untuk akumulasi beli saham UNTR dan ANTM. Adapun target harga untuk UNTR sebesar Rp 32.000 per saham dan ANTM sebesar Rp 960 per saham.

Pada pukul 13.54 WIB, harga UNTR naik 0,20% ke Rp 25.575 per saham. Sedangkan harga ANTM turun 2,74% ke Rp 710 per saham.


Sumber : www.Kontan

  Tag :




    Berita Terkait :

  • OJK: Revisi UU Pasar Modal Masih dalam Proses Brainstorming
  • Perang Dagang Makin Panas, Investor Paling Anti dengan Saham Perbankan, BCA Termasuk!
  • Kala IHSG Tertekan, Saham PGAS Menguat 0,25%
  • Masuk Indeks MSCI, Saham Emiten Batu Bara Ini Meroket!
  • Tetap Selektif Memilih Saham Emiten Kabel