» Detail News

Jumat, 09 November 2018 - 08:25:01 WIB

Posting by : Deny
Category    : Economic News - Reads : 9



Pantaskah Dapat Cuan 1.000% Lebih Dari Saham Ini?


Tahun 2018 mungkin menjadi periode sulit bagi pasar saham. Pasalnya, volatilitas cukup tinggi dan sentimen cenderung negatif. Ini tampak dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat turun 5,92% secara year-to-date. 

Namun demikian, ditengah gejolak pasar saham tersebut ada satu yang baru saja tercatat akhir 2017 dan kinerja naik lebih dari 1000% atau lebih dari 10 kali lipat. Artinya jika berinvestasi sekitar Rp 100 juta dengan membeli saham tersebut di pasar perdana (initial public offering/IPO), maka sekarang nilai investasi tersebut sudah meningkat menjadi Rp 1 miliar. 

Saham yang dimaksud adalah PT Prima Cakrawala Prima Tbk (PCAR), yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 29 Desember 2017. Di mana di pasar perdana saham PCAR lepas pada harga Rp 150/saham. 

Setelah ditransaksikan di pasar sekunder, harga saham PCAR terus meroket. Hingga hari ini, harga saham PCAR tercatat sudah naik 1.061,42% ke level harga Rp 2.950/saham.

Rerata nilai transaksi saham PCAR mencapai Rp 2,45 miliar/hari dari rerata volume 1,31 juta saham/hari. Namun rerata jumlah frekuensi tercatat hanya 67 kali/hari.

PCAR menjadi emiten pengolah rajungan pertama yang melantai di bursa saham. Kala itu, perusahaan melepas sebanyak 466.666.700 saham atau setara dengan 40% dari total saham perusahaan.

Dana yang berhasil dihimpun dari IPO adalah senilai Rp 72,33 miliar. Pada perdagangan perdananya di BEI, harga saham PCAR langsung melesat hingga 69,3%. Positifnya kinerja perusahaan menjadi dasar utama dari kenaikan harga sahamnya yang begitu kencang. 

Dari sisi kinerja, hingga kuartal III-2018 tak terlalu menggembirakan. Berdasarkan laporan keuangan, perseroan masih membukukan rugi bersih Rp 2,63 miliar. Angka tersebut memang berkurang dibandingkan kerugian yang dialami pada periode yang sama tahun lalu Rp 3,77 miliar. 

Sementara pendapatan naik 42,20% menjadi Rp 148,94 miliar dari Rp 104,74 secara tahunan. Namun beban juga mengalami peningkatan 50,79% menjadi Rp 143,1 miliar dari Rp 94,9 miliar.

Sementara itu, nilai aset tercatat naik 89,05% menjadi Rp 122,6 miliar dari Rp 64,85%. Artinya jika dilihat dari nilai aset, PCAR bukanlah perusahaan yang dari sisi ukuran besar. 

Namun nilai kapitalisasi pasar saham PCAR pada harga saham Rp 2.950/saham, saat ini sudah mencapai Rp 3,44 triliun. Artinya valuasi sahamnya sudah membumbung hampir 30 kali dari nilai aset.

Selain itu, PCAR dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI pada September silam memberitahukan menutup salah satu pabrik perseroan yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. 

Penutupan pabrik tersebut karena perusahaan rajungan ini belum mendapatkan izin usaha industri (IUI) dari pemerintah daerah (Pemda) setempat disebabkan oleh lokasi pabrik yang berada di kawasan pemukiman dan perumahan (non kawasan industri).

Dengan ditutupnya pabrik tersebut, dampak yang ditimbulkan diantaranya pengunduran diri sebagian besar karyawan dan tenaga ahli yang bekerja pada unit tersebut. Selanjutnya, perseroan harus melakukan pemberhentian sementara dalam proses produksi dari produk-produk miliknya.

Pemberhentian tersebut diperkirakan berdampak pada target ekspor perseroan dari sebanyak 5 kontainer produk setiap bulannya menjadi hanya 3 kontainer produk per bulan.

Namun, penutupan pabrik tersebut diperkirakan mampu menghemat pengeluaran dan biaya perasional PCAR sebesar Rp 2,4 miliar setiap tahun.

Di sisi lain, perseroan akan memfokuskan bisnis ekspor dan produksi melalui dua anak usahanya yakni PT Karya Persada Khatulistiwa yang berlokasi di Indramayu dan PT Nuansa Cipta Magello (NCM) yang berlokasi di kota Makassar.


Sumber : www.CNBC

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Cair! Inalum Punya Modal Beli Saham Freeport
  • Pembukaan Pasar: Rupiah Melemah ke Rp 14.600/US$
  • Perhatikan Aksi 8 Emiten Ini Sebelum Perdagangan Dibuka
  • Dibayangi Aksi Ambil Untung, IHSG Bakal Terkoreksi Wajar
  • Ditopang Derasnya Arus Modal, Rupiah Mantap di Puncak Asia